Financial Reporting & Analysis – Cash Flow Statement

Berbeda dengan Balance Sheet dan Income Statement yang rentan untuk di manipulasi, cash flow statement lebih susah untuk di manipulasi karena mencatat setiap arus cash flow masuk dan keluar dari perusahaan. Tujuan dari laporan arus kas ini adalah:

  • Menunjukkan cash flow masuk dan keluar dari perusahaan pada suatu periode tertentu.
  • Memberikan gambaran yang jelas mengenai cash flow dari perusahaan berdasarkan aktifitas operasional (CFO = Cash Flow from Operation), atau aktifitas investasi (CFI = Cash Flow from Investment), dan atau aktifitas financing (CFF = Cash Flow from Financing activities).
  • Untuk melihat dampak dari accrual accounting terhadap cash flow perusahaan.
  • Untuk melakukan assessment terhadap liquidity, solvency, dan financial flexibility dari perusahaan.

Cash flow statement dapat digunakan untuk melihat apakah:

  • Operasional bisnis perusahaan sanggup menghasilkan cash yang cukup untuk kelangsungan hidup perusahaan.
  • Apakah perusahaan sanggup mencetak cash yang cukup untuk membayar dan melunasi hutang.
  • Apakah perusahaan membutuhkan financing tambahan.
  • Memperkirakan apakah kalau terjadi hal-hal yang di luar perkiraan atau tidak di harapkan, apakah perusahaan memiliki cash yang cukup untuk mengatasinya.
  • Apakah perusahaan sanggup menampuk keuntungan dari lini bisnis yang baru.

Kalau kita membaca laporan keuangan perusahaan yang listed di bursa saham, di bagian cash flow statement akan ada 3 bagian yaitu CFO, CFI, dan CFF. Menurut US GAAP:

  • Cash flow from Operating activities (CFO): Cash yang berasal dari transaksi yang mempengaruhi net income. Contoh: cash yang di terima dari pembayaran customers, cash yang dibayarkan kepada suppliers dan karyawan, biaya operasional lainnya, trading securities, bunga yang dibayarkan atau di terima, dividend yang di terima, pembayaran pajak. Semua itu di kategorikan sebagai cash flow operasional atau CFO (singkat kata, cash flow terkait operasional bisnis utama perusahaan).
  • Cash flow from Investing activities (CFI): Cash flow yang terkait dengan akuisisi atau pun penjualan long term assets atau investasi tertentu. Contoh: pembelian atau penjualan fixed assets, equity investment (misalnya membeli 20% saham dari perusahaan X), dan debt investment.
  • Cash flow from Financing activities (CFF): Cash yang berasal dari transaksi yang mempengaruhi capital structure perusahaan (yaitu transaksi yang mempengaruhi debt dan equity perusahaan). Contoh: debt & equity financing (pinjam uang atau IPO atau right issue), pembayaran hutang, pembayaran dividend, treasury stock.

Sebagai summary:

US GAAP CFS

Perhatikan bahwa ketika perusahaan menerbitkan surat hutang, jumlah uang yang di terima perusahaan masuk dalam kategori financing activities, tetapi ketika perusahaan membayar bunga atas hutang tersebut, pembayaran bunga masuk dalam kategori operating activities.

Pencatatan cash flow statement pada standard IFRS sedikit berbeda dengan US GAAP, yaitu:

CFS IFRS vs US GAAP

Cash flow statement menyajikan nilai cash pada saat awal dan akhir dari suatu periode akunting:

Operating cash flow + investing cash flow + financing cash flow = Perubahan jumlah cash flow pada periode tersebut. 

Perubahan cash flow pada periode tersebut + jumlah cash flow awal periode = jumlah cash flow akhir periode

Contoh:

Cash flow pada awal periode 100. Kemudian dari operasional (CFO) perusahaan menghasilkan cash flow 20, CFI cash flow nya -50 karena perusahaan ekspansi membangun pabrik baru, kemudian financing cash flow CFF misalnya 40 yaitu perusahaan menerbitkan surat hutang. Maka perubahan cash flow pada periode tersebut adalah 20 – 50 + 40 = 10. Maka, cash yang di miliki perusahaan pada akhir periode tersebut adalah cash flow awal periode + perubahan cash flow = 100 + 10 = 110.

Cara penyajian CFO dapat di lakukan dengan 2 metode, yaitu:

  • Direct method: menyajikan CFO dengan cara mengkonversi laporan income statement yang berbasiskan accrual basis menjadi cash basis dengan format seperti pada tabel berikut: Direct Method
  • Indirect method: menyajikan CFO dengan cara mengkonversi net income yaitu melakukan adjustment terhadap transaksi yang berdampak terhadap net income tetapi merupakan non cash transaction seperti depresiasi dan amortisasi, non operating items seperti gains/losses, dan perubahan pada balance sheet yang disebabkan oleh accrual accounting.

Pada indirect method, penyajiannya di mulai dengan net income, sementara pada direct method, penyajian cash flow statement di mulai dengan cash inflows dari customers.

Contoh, laporan keuangan PT. ABC per akhir tahun 2014 adalah sebagai berikut:

Balance Sheet PT ABC

Income statement PT ABC

Berikut ini adalah contoh penyajian cash flow statement from operation dengan direct method:

Menggunakan direct method, income statement yang dasarnya accrual based accounting di konversikan menjadi cash basis untuk mendapatkan CFO:

direct method calculation

Penjelasannya sebagai berikut:

Penambahan pada asset atau asset bertambah artinya adalah adanya penggunaan cash atau cash berkurang. Ketika asset berkurang (berkurangnya account receivable), artinya cash bertambah karena customers membayar piutang. Ketika liability bertambah artinya ada cash yang masuk ke perusahaan yaitu berasal dari hutang, dan ketika liability berkurang artinya adalah cash berkurang yaitu pembayaran kepada suppliers atau pembayaran hutang. Jadi:

Asset naik –> cash berkurang Asset turun –> cash bertambah Hutang naik –> cash bertambah Hutang turun –> cash berkurang

Penjelasan tabel perhitungan di atas:

  • Cash yang di terima dari customers: Dari income statement PT. ABC dapat kita lihat bahwa penjualan perusahaan selama tahun 2014 adalah sejumlah 100.000. Dari balance sheet, dapat kita lihat bahwa account receivable (piutang) naik 1.000 yaitu pada tahun 2013 = 9.000 dan pada tahun 2014 naik menjadi = 10.000. Artinya adalah, dari penjualan 100.000 PT. ABC kepada customers, customers berhutang kepada PT. ABC sejumlah 1.000, jadi tidak serta merta penjualan 100.000 pada 2014, perusahaan menerima cash 100.000 pada tahun 2014. Sehingga cash yang di terima PT. ABC dari customers pada tahun 2014 adalah 100.000 – 1.000 = 99.000.
  • Pembayaran cash kepada suppliers: Ingat mengenai matching principle, COGS di akui pada saat inventory tersebut terjual. Jadi pada akhir tahun 2013 PT. ABC memiliki inventory senilai 7.000, dan pada akhir 2014 inventory PT. ABC turun menjadi 5.000. Menurut pencatatan di income statement, COGS adalah -40.000. Artinya adalah, pada tahun 2014 PT. ABC membeli inventory senilai -40.000 + 2.000 = -38.000, karena 2.000 lagi dari inventory yang terjual menggunakan stock lama tapi baru di akui di income statement pada tahun 2014 karena penjualan terjadi di 2014 (matching principle). Sehingga 2.000 harus di tambahkan kembali karena tidak ada pembelian/pembayaran cash kepada suppliers sejumlah 2.000 di tahun 2014. Kemudian, di balance sheet dapat kita lihat bahwa account payable atau hutang lancar PT. ABC per akhir 2014 bertambah 4,000 di bandingkan dengan tahun 2013, artinya dari pembelian sejumlah -38.000 pada tahun 2014 kepada suppliers, PT. ABC baru membayar cash sejumlah -38.000 + 4.000 = -34.000 kepada suppliers, sementara sisa 4.000 nya lagi PT. ABC berhutang kepada suppliers nya dan baru akan di lunasi di kemudian hari saat jatuh tempo sesuai kesepakatan payment term pada saat transaksi, sehingga 4.000 tercatat sebagai account payable atau hutang lancar di balance sheet. Jadi total cash yang dibayarkan oleh PT. ABC kepada suppliers pada tahun 2014 adalah -34.000. Sekarang sedikit contoh yang berbeda, seandainya inventory PT. ABC pada tahun 2013 = 5.000, dan pada tahun 2014 naik menjadi = 7.000, atau keadaan sebaliknya dari contoh di atas. Maka, artinya pembelian inventories kepada suppliers adalah sebanyak -40.000 – 2.000 = -42.000. sementara penjualannya hanya -40.000 (COGS), sehingga inventory per akhir tahun bertambah 2.000 menjadi 7.000 dari sebelumnya 5.000.
  • Pembayaran cash untuk biaya operasional: Dari income statement PT. ABC dapat kita lihat bahwa pembayaran upah karyawan pada tahun 2014 adalah sejumlah 5.000. Maka cash outflow -5.000. Kemudian dari balance sheet PT. ABC dapat kita lihat bahwa wages payable pada akhir 2013 = 8.000 dan pada akhir 2014 turun menjadi = 4.500, atau berkurang 3.500. Artinya, pada tahun 2014 PT. ABC mengeluarkan cash -5000 – 3.500 = -8.500 untuk membayar operasional karyawan. Di mana -5.000 adalah beban operasional karyawan pada tahun 2014, dan -3.500 merupakan hutang operasional karyawan perusahaan sejak tahun sebelumnya yang di lunasi di tahun 2014, sehingga total cash outflow PT. ABC = -8.500.
  • Pembayaran cash untuk beban bunga: Dari income statement, biaya bunga adalah -500. Dari balance sheet, hutang bunga atau interest payable naik dari tahun 2013 = 3.000 dan pada tahun 2014 menjadi = 3.500. Artinya adalah, biaya beban bunga yang tercatat di income statement -500 tersebut tidak/belum dibayarkan oleh PT. ABC pada tahun 2014, sehingga per akhir tahun 2014 di balance sheet tercatat kenaikan hutang bunga sejumlah 500 menjadi 3.500. Jadi, di dapat bahwa cash yang di keluarkan PT. ABC pada 2014 untuk membayar bunga adalah -500 + 500 = 0 alias belum dibayar tetapi sudah di akui di income statement sebagai biaya.
  • Pembayaran cash untuk biaya pajak: Dari income statement, biaya pajak tahun 2014 tercatat -20.000. Kemudian di balance sheet, hutang pajak per tahun 2014 tercatat naik 1.000, dan deferred tax liability naik 5.000. Artinya adalah dari total biaya pajak yang tercatat di income statement sejumlah -20.000 tersebut, PT. ABC hanya membayar -20.000 + 1.000 + 5.000 = -14.000 saja secara cash ke kantor pajak. Sisanya tercatat sebagai hutang pajak di balance sheet dan baru akan dibayarkan oleh perusahaan pada tahun berikutnya.
  • Sehingga total cash flow dari aktifitas operasional PT. ABC adalah menghasilkan cash inflow sejumlah 42.500 ke kas perusahaan per akhir tahun 2014.

Cara menghitung cash flow from operating dengan metode indirect adalah:

  1. Di mulai dari net income nya berapa.
  2. Kemudian, yang gain/loss dari financing dan investing activities di adjust yaitu yang gain di kurang atau di keluarkan dari net income, sementara yang loss di tambahkan kembali ke net income. Karena gain/loss bukan komponen utama bisnis perusahaan (non operating activities). Misalkan perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan sawit, inventory nya adalah salah satunya tandan buah segar, kemudian perusahaan juga memiliki sebidang tanah yang di beli 10 tahun yang lalu, kemudian setelah di jual sekarang harganya sudah naik dan memberikan keuntungan misalnya 10.000 dan tercatat di I/S, maka 10.000 tersebut harus di keluarkan dari cash flow from operating karena bukan merupakan cash flow dari operasional bisnis utama perusahaan, namun tercatat di income statement.
  3. Tambahkan kembali ke net income komponen yang non cash activities seperti misalnya depresiasi dan amortisasi, dan kurangi atau keluarkan komponen revenue yang non cash.
  4. Tambah/kurangkan perubahan di balance sheet yang terkait dengan aktifitas accrual accounting.

Jadi, dari contoh di atas pada PT. ABC, apabila disajikan dengan indirect method, maka CFO nya:

indirect calculationPenjelasannya sebagai berikut:

  • Gain from sale of land: harus di keluarkan dari net income karena merupakan cash flow dari non operating activities.
  • Depreciation: harus di tambahkan kembali ke net income, karena sebelumnya di income statement (I/S) biaya depresiasi mengurangi net income, padahal sebenarnya depresiasi adalah komponen non cash transaction, sehingga untuk melihat cash flow operating nya, depresiasi di tambahkan kembali ke I/S.
  • Bertambahnya account receivable:account receivable bertambah artinya customers berhutang kepada PT. ABC, atau dengan kata lain ada cash yang belum dibayarkan oleh customers ke PT. ABC namun sudah tercatat di I/S, maka harus di kurangi dari net income.
  • Berkurangnya inventories:apabila inventory berkurang di bandingkan tahun sebelumnya, artinya ada sebagian dari penjualan yang terjadi pada tahun ini yang tercatat di I/S menggunakan stock lama, sehingga tidak ada pembayaran ke suppliers (cash outflows) pada tahun ini, sehingga harus di add back kembali ke net income.
  • Bertambahnya account payable: artinya ada hutang atau ada cash yang belum dibayarkan kepada suppliers. Misalkan PT. ABC membeli inventory sejumlah 38.000, menurut term of payment yang di sepakati, PT. ABC boleh melunasi 34.000 terlebih dahulu, sisa 4.000 di lunasi tahun depan. Sehingga di catat di balance sheet account payable bertambah 4.000, dan sementara di COGS atau I/S sudah di akui biaya tersebut, yang mana sebenarnya tidak ada cash flow activity, maka harus ditambahkan kembali ke net income sejumlah 4.000.
  • Berkurangnya wages payable: artinya perusahaan melunasi kewajibannya terhadap karyawan, sehingga ada cash outflows, maka harus di kurangi terhadap net income.
  • Bertambahnya interest payable, taxes payable, dan deferred tax: artinya ada tambahan hutang bunga dan pajak, yang mana secara biaya sudah di akui di I/S, sementara belum di eksekusi pembayarannya oleh perusahaan sehingga tercatat di B/S sebagai hutang. Maka komponen non cash ini harus di tambahkan kembali ke net income.
  • Maka, di dapat hasil akhirnya CFO nya sama dengan perhitungan dengan menggunakan direct method yaitu 42.500.

Direct method menunjukkan cash payment and receipt pada perusahaan, sehingga lebih jelas menggambarkan keadaan cash flow keluar dan masuk pada perusahaan. Sementara indirect method menunjukkan perbedaan antara net income dengan aktual cash flow operasional dari perusahaan.

Tidak ada pembedaan direct dengan indirect method dalam penyajian CFI dan CFF. CFI dari contoh PT. ABC di atas adalah seperti berikut:

CFI

Penjelasan:

  • Dari income statement dapat kita lihat bahwa PT. ABC menjual sebidang tanah dan memperoleh gain (keuntungan) 10.000, maka ada cash inflow sebanyak 10.000. Tetapi bukan berarti tanah tersebut di jual seharga 10.000. Dari balance sheet dapat kita lihat bahwa nilai fixed asset dalam bentuk tanah turun dari tahun sebelumnya 40.000 menjadi 35.000 di tahun ini. Artinya adalah tanah tersebut historical cost nya adalah 5.000 atau di beli di harga 5.000. Kemudian di jual di harga 15.000. Jadi sebenarnya perusahaan menerima cash inflow sebanyak 15.000 dari aktifitas penjualan tanah tersebut, hanya saja di I/S hanya di catat gain nya atau keuntungannya saja yaitu 10.000. Jadi, formula untuk cash from sales of assets = historical cost – accumulated depreciation of equipment sold + gain/loss on sales of assets. Dalam contoh ini, karena tanah tidak mengalami depresiasi, maka cash from sales of land = historical cost (di lihat di balance sheet) + gain on sales of land (di income statement).
  • Kemudian, fixed asset lainnya yang di miliki oleh perusahaan yaitu PP&E atau Property, Plant & Equipment. Pada balance sheet dapat kita lihat nilai gross plant & equipment (sebelum depresiasi) naik dari tahun 2013 = 60.000 menjadi 85.000 pada tahun 2014. Artinya perusahaan ada menambah/membangun asset PP&E yang baru pada tahun 2014 yaitu sebesar 85.000 – 60.000 = 25.000. Jadi, ada cash outflow untuk aktifitas investasi dan ekspansi sejumlah -25.000 yang dilakukan oleh perusahaan pada tahun 2014. Jadi, formula untuk cash paid for new assets = ending gross assets + gross cost of assets sold – beginning gross assets.
  • Jadi, secara total cash flow from investing pada tahun 2014 adalah terdiri dari cash yang berasal dari penjualan tanah sebesar 15.000, dan juga cash yang di keluarkan untuk ekspansi sejumlah -25.000, sehingga secara total cash flow from investing activity adalah -10.000.

Dari contoh B/S PT. ABC di atas, nilai PP&E setelah depresiasi pada tahun 2014 adalah sebesar 69.000, nilai asset sesudah depresiasi disebut juga dengan book value. Untuk menghitung cash from sales of assets bisa juga di dapat dengan book value + gain karena book value = historical cost – depreciation. Namun dari contoh di atas oleh karena gross asset adalah naik dari tahun 2013 sebesar 60.000 menjadi 2014 sebesar 85.000, maka perusahaan tidak menjual PP&E melainkan ekspansi dengan menambah PP&E sehingga nilai PP&E malah naik di tahun 2014. Akan tetapi, bisa saja misalnya perusahaan menjual PP&E tetapi nilai ekspansi lebih besar daripada nilai penjualan PP&E sehingga per akhir tahun 2014 nilai di balance sheet tetap naik, untuk informasi penjualan assets lama dapat di lihat di bagian footnotes dari financial statement, jadi seandainya misalnya PT. ABC ada menjual asset lama atau pabrik lama sebesar misalnya 10.000, artinya ada cash inflow 10.000 dari penjualan asset lama, maka cash paid for new PP&E adalah = -25.000 + 10.000 = -15.000, sehingga total CFI akan menjadi = 0.

CFF dari PT. ABC adalah:

CFF

Penjelasannya:

  • Cash from bond issue: yaitu cash yang berasal dari penerbitan surat hutang, di balance sheet dapat kita lihat bond payable (long term liability) naik dari sebelumnya 10.000 menjadi 15.000 artinya pada tahun 2014 PT. ABC menerbitkan surat hutang dan terserap sehingga mendapatkan pinjaman 5.000 dari investor (cash inflow).
  • Repurchase of stock: pada tahun 2014 tidak ada right issue atau penerbitan saham baru, namun di balance sheet dapat kita lihat bahwa common stock pada tahun 2013 ada 50.000, kemudian di tahun 2014 berkurang menjadi 40.000 atau berkurang 10.000, artinya perusahaan melakukan buyback senilai 10.000, sehingga ada cash outflow senilai -10.000.
  • Cash dividend: pada tahun 2014 PT. ABC declare bahwa perusahaan akan membayarkan dividend sejumlah -8.500 (declare artinya belum dibayarkan tapi baru di umumkan), tetapi di balance sheet tercatat bahwa per akhir 2014 dividend payable naik dari sebelumnya 1.000 menjadi 6.000, artinya dari -8.500 yang di declare akan dibayarkan, PT. ABC sudah membayarkan sejumlah -8.500 + 5.000 = -3.500, dan sisa 5.000 lagi baru akan dibayarkan di tahun berikutnya.
  • Sehingga total CFF adalah sebesar = 5.000 – 10.000 – 3.500 = -8.500.

Jadi total cash flow PT. ABC pada tahun 2014 adalah:

CFO + CFI + CFF = 42.500 + (-10.000) + (-8.500) = 24.000.

Evaluasi terhadap sumber dan penggunaan cash suatu perusahaan:

  • Pada perusahaan start up, biasanya CFF akan + alias banyak cash inflow dari aktifitas financing karena perusahaan membutuhkan banyak modal untuk menjalankan dan mengembangkan usaha. Kemudian CFI akan – karena banyak cash outflow untuk investasi awal, dan CFO akan – karena masih belum menghasilkan profit dari kegiatan operasi.
  • Sumber utama dan penggunaan cash suatu perusahaan harus di lihat secara keseluruhan CFO, CFI, dan CFF. Misalnya, cash flow PT. LE bertambah $500,000 dari sebelumnya $1 juta menjadi $1.5 juta. Di mana $500k tersebut di kontribusikan oleh: CFO = $6 juta, CFI = -$5 juta, dan CFF = -$0.5. Maka, artinya adalah sumber cash PT. LE berasal dari bisnis perusahaan (CFO), kemudian digunakan dalam jumlah yang besar untuk investasi atau ekspansi (CFI), dan sebagian kecil digunakan untuk membayar kepada investor dalam bentuk dividend atau membayar hutang (CFF).
  • Dari ilustrasi di atas, dapat kita lihat bahwa PT. LE sanggup menghasilkan cash dari bisnis perusahaan (CFO = $6 juta) yang mencukupi untuk membiayai capital expenditure perusahaan (CFI = -$5 juta).
  • Dengan mengevaluasi CFO suatu perusahaan, kita dapat menganalisa apakah:
    • Perubahan net income pada income statement sejalan dengan perubahan pada cash flow? In the long run, seharusnya kalau perusahaan mencatatkan net income naik terus, seharusnya CFO juga naik atau ada cash inflow masuk ke perusahaan. Apabila tidak demikian, maka ada yang tidak beres dengan perusahaan tersebut (manipulasi lapkeu).
    • Apa yang menjadi sumber utama cash flow bagi perusahaan? Jangan-jangan cash flow positif terus, tetapi CFO – terus, jadi cash yang bertambah berasal dari menjual asset lama (CFI) atau menambah hutang (CFF).
    • Apakah usaha perusahaan memberikan cash flow yang konsisten, atau zig zag naik turun, stabil atau tidak?
  • Dengan melihat CFI:
    • Dapat di lihat bagaimana strategi dan cara perusahaan menginvestasikan modalnya.
    • Dari mana uang tersebut berasal?
  • Misalkan kalau CFO perusahaan 10.000, kemudian ekspansi perusahaan -10.000, dan melihat ke CFF = 0 yaitu mendapatkan hutang 5.000, kemudian membayar cash dividend 5.000, artinya perusahaan tersebut membayar dividend kepada shareholders dengan hutang (ini hanya contoh).

Analisa Cash Flow Statement

Sama seperti pada analisa balance sheet dan income statement, analisis terhadap cash flow statement dapat menggunakan common size analysis yaitu mengkonversi setiap line item ke dalam percentage (terhadap revenue). Sehingga kelihatan perubahan cash inflow dan cash outflow per line item dari waktu ke waktu, dan dari situ akan dapat terlihat trend cash flow pada perusahaan serta melakukan forecast terhadap future cash flow dari perusahaan tersebut. Misalnya, bisa di lihat kalau CFO menurun terus dari tahun ke tahun, CFI cenderung konstan atau bertambah, dan CFF naik terus, pertanda perusahaan tidak menghasilkan banyak cash flow dari operasional bisnisnya (bisnisnya sedang downtrend), CFI tidak banyak perubahan atau bertambah pertanda perusahaan tidak banyak melakukan ekspansi dan investasi atau malahan menjual asset lama, dan CFF bertambah terus pertanda perusahaan menambah pinjaman hutang untuk operasional bisnis perusahaan, artinya perusahaan tersebut sedang dalam keadaan ‘berat’.

Tabel berikut merupakan contoh common size analysis untuk cash flow statement, jadi CFO, CFi, dan CFF disajikan dalam bentuk persentase:

common size analysis CFS

Selain dengan common size analysis, beberapa rasio keuangan yang dapat digunakan untuk evaluasi kinerja perusahaan diantaranya:

Performance ratio:

  • Cash flow to revenue ratio: yaitu CFO / net revenue -> jumlah cash yang di hasilkan atas setiap 1 dollar dari revenue atau penjualan. Misalnya hasil rationya 0.5 artinya dari penjualan $2 menghasilkan cash bagi perusahaan $1.
  • Cash return on asset ratio: yaitu CFO / average total assets -> Mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan cash berdasarkan jumlah asset yang di miliki. Semakin besar rationya semakin bagus, artinya dengan asset yang sedikit, perusahaan bisa menghasilkan cash dari operasional bisnis perusahaan yang besar.
  • Cash return on equity ratio: CFO / average total equity -> mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan cash berdasarkan capital yang di miliki.
  • Cash to income ratio: CFO / operating income -> kemampuan perusahaan menghasilkan cash dari bisnis utama perusahaan.
  • Cash flow per share: variasi lain dari Earning Per Share, yaitu bisa di dapat dengan (CFO – preferred dividends) / weighted average number of common shares.

Coverage ratio:

  • Debt coverage ratio: CFO / total debt -> mengukur resiko dari penggunaan leverage, apakah perusahaan menghasilkan cash yang mencukupi untuk membayar hutang.
  • Interest coverage ratio: CFO + interest paid + pajak yang sudah dibayarkan / interest paid -> mengukur apakah perusahaan sanggup membayar kewajiban bunga.
  • Reinvestment ratio: CFO / cash yang dibayarkan untuk long term assets -> mengukur kemampuan perusahaan untuk mengakuisisi long term asset yang baru dengan cash flow dari operasional.
  • Debt payment ratio: CFO / long term debt repayment -> kemampuan perusahaan untuk melunasi hutang jangka panjang.
  • Dividend payment ratio: CFO / dividend yang telah dibayarkan -> kemampuan perusahaan untuk membayarkan dividend menggunakan cash yang berasal dari bisnis utama perusahaan.
  • Investing & financing ratio: CFO / cash outflow CFI dan CFF -> kemampuan perusahaan untuk membeli asset baru, melunasi hutang, dan membayarkan dividend.

Meskipun financial ratio dapat digunakan untuk melakukan analisa terhadap laporan keuangan suatu perusahaan, financial ratios juga memiliki keterbatasan di antaranya:

  • Single value dari suatu financial ratio tidak berarti apa-apa, financial ratio tidak dapat di analisa secara sendiri-sendiri, semua ratio harus di perhatikan dan di analisa dalam kaitannya satu sama yang lain. Misalnya, kita membandingkan DER perusahaan A misalnya 1, sementara DER industry 0.6, belum tentu perusahaan A adalah perusahaan yang tidak bagus. Asalkan perusahaan tersebut memiliki liquidity yang bagus (jangan sampai pailit), cash flow yang besar, CFO yang mencukupi untuk melunasi hutangnya dan juga untuk ekspansi, memiliki sumber revenue yang pasti, menjalankan good corporate governance, tidak terlilit masalah hukum, memiliki competitive benefit di banding competitorsnya, suatu saat mungkin DER nya akan turun, dan net income nya akan naik terus (harga sahamnya naik), mungkin perusahaan A tersebut adalah pemain baru di industry nya, dan mereka melakukan banyak ekspansi sehingga DER nya besar pada saat itu tinggi.
  • Analisa terhadap financial ratio tidak bisa hanya melihat keadaan financial ratio saat ini, tetapi juga harus di lihat performance pada masa lampau, keadaan industry, keadaan kompetitor, dan siklus ekonomi.
  • Financial ratios di dapat dari laporan keuangan, di mana laporan keuangan rentan terhadap manipulasi (accounting shenanigan; akan di bahas pada artikel terpisah).
  • Membandingkan financial ratio antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain meskipun di industry yang sama belum tentu apple to apple comparison, karena bisa saja treatment accounting yang berbeda di masing-masing perusahaan, terutama untuk perusahaan yang tidak menggunakan standard US GAAP (misalnya kayak contoh di atas dalam artikel ini terkait cash flow: penerimaan bunga, pembayaran pajak, pembayaran dividen, boleh di kategorikan either operating cash flow atau pun investing cash flow tergantung manajemen perusahaan).
  • Sulit untuk membandingkan perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain yang comparable terutama pada perusahaan konglomerasi seperti misalnya Astra, Bakrie, karena mereka main di berbagai macam sektor, seperti perkebunan, otomotif, konstruksi, tambang, alat berat, finance, banking, dan sebagainya.
  • Financial ratios bukan jawaban terhadap pertanyaan analyst, tetapi financial ratios memberikan data kepada analyst untuk melakukan analisa: kenapa? apa yang terjadi? dan bagaimana?

Di dalam analisa laporan keuangan suatu perusahaan, liquidity ratio merupakan indikator yang paling penting dibandingkan dengan ratio lainnya. Karena, perusahaan mungkin bisa mencetak profit yang fantastis, tetapi kalau tiba saatnya jatuh tempo untuk bayar hutang, perusahaan tidak memiliki cukup cash untuk membayar hutang sehingga perusahaan pailit, maka harga sahamnya akan jatuh. Beberapa liquidity ratio di antaranya:

  • Current ratio: current assets / current liabilities
  • Quick ratio: (cash + marketable securities + receivable) /  current liabilities
  • Cash ratio:(cash + marketable securities) / current liabilities
  • Defensive interval: cash + marketable securities + receivables / average daily expenditures

Dari antara current ratio, quick ratio, dan cash ratio; cash ratio merupakan liquidity ratio yang paling conservative karena tidak memperhitungkan A/R (karena bisa saja A/R tidak dibayar oleh customers). Ketiga ratio tersebut menunjukkan apakah cash perusahaan cukup untuk melunasi hutang yang jatuh tempo dalam waktu dekat. Semakin besar akan semakin bagus, misalnya cash = 1000, dan current liabilities = 10, maka cash ratio = 100. Defensive interval merupakan ratio untuk mengukur dari cash yang di miliki oleh perusahaan, cash tersebut cukup bagi perusahaan untuk mengcover daily expenditures perusahaan selama berapa lama.

Solvency ratio memberikan informasi kepada analyst terkait financial leverage dari suatu perusahaan dan kemampuan perusahaan dalam melunasi hutang jangka panjang:

  • Debt to equity ratio (DER) = total debt / total equity
  • Debt to capital ratio = total debt / (total debt + shareholders’ equity)
  • Debt to asset ratio = total debt / total assets
  • Interest coverage ratio = EBIT / interest payment
  • Financial leverage = Average total assets / average total equity -> banking merupakan industry yang high leverage, assetnya besar tetapi berasal dari uang tabungan nasabah.

Profitability ratio di antaranya:

  • Gross profit margin: gross profit / sales
  • Operating profit margin: operating profit atau EBIT / sales
  • Net profit margin: net income / sales
  • ROE = Net income / average total equity
  • ROA = Net income + interest expenses (1 – tax) / average total assets
  • Return on total capital = EBIT / average total assets

Free Cash Flow

Yaitu cash flow yang tersedia yang dapat digunakan untuk keperluan tertentu. Yaitu sisa cash flow setelah cash flow yang ada digunakan untuk mengcover capital expenditures perusahaan. Free cash flow sering kali digunakan untuk keperluan valuasi. Terdapat 2 jenis free cash flow yaitu:

  1. Free cash flow to the firm (FCFF): Firm artinya debt holders dan equity holders, jadi FCFF artinya adalah free cash flow yang tersedia bagi debt holders dan equity holders.
    FCFF = CFO + interest expense x (1 – tax rate) – fixed capital investment.
  2. Free cash flow to the equity (FCFE): yaitu cash flow yang tersedia untuk stockholders setelah dikurangi dengan operating expenses, biaya hutang, working capital investment, dan fixed capital investment.
    FCFE = CFO – fixed capital investment + net borrowing.
    Nilai FCFE yang positif artinya adalah adanya sisa cash flow setelah perusahaan membayar keperluan investasi dan pembayaran hutang.

Lebih detail mengenai free cash flow akan LE tuliskan pada artikel terkait equity investment.

~*~

Apabila anda menyukai artikel ini, silakan bergabung bersama komunitas orang-orang positive di halaman facebook kami 🙂 : Life Explorer

Advertisements
This entry was posted in Investasi dan Keuangan. Bookmark the permalink.

5 Responses to Financial Reporting & Analysis – Cash Flow Statement

  1. Anonymous says:

    Thank you yach buat sharing article, sangat membantu , tetap semangat dalam menulis dan selalu bermanfaat salam

    Like

  2. Anonymous says:

    Terimakasih, boleh tau gak kk sumber buku yang menyatakan FCF (Free Cash Flow)= CFO-CFI?

    Like

  3. Suci says:

    Terimakasih, boleh tau gak kk sumber buku yang menyatakan FCF (Free Cash Flow)= CFO-CFI?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s